Kamis, 25 Juni 2015

Yakin, Sodekah dalam Bisnis Mampu Lonjakan Keuntungan

JURAGAN LONDRY – Mungpung bulan puasa, mari kita sedikit bicara “bisnis dengan Allah SWT” melalui pintu sedekah. Sebagaimana keterangan yang sahih bahwa sedekah akan melipatkan keuntungan, baik duniawi maupun ukhrawi.

Balasannya bisa langsung berupa materi maupun balasan lain seperti kesehatan, kedamaian, keharmonisan rumah tangga. Pahala sedekah sangat pasti, sudah disebutkan balasannya hingga 700 kali lipat. Pahala pun akan dirasakan baik didunia maupun diakhirat.

Kisah orang-orang sukses, kaya raya dengan proses sedekah sudah banyak dikupas oleh para penceramah. Bukan hanya muslim, melainkan non muslim. Kita kita sering mendengar kisah, orang-orang terkaya dunia, ternyata menyisihkan lebih banyak hartanya pada lembaga sosial yang mereka dirikan, ketimbang mengambil keuntungan tersebut untuk kepentingan sendiri.
Tingga bagaimana kita merasakan kejaiban sedekah itu dalam hidup kita termasuk untuk meningkatkan omzet serta meledakan keuntungan bisnis.

kaya raya dengan sedekah



Selain sedekah ada juga zakat. Sedekah hukumnya sunnah dan berupa anjuran dengan janji pahala sangat besar. Sedangkan zakat merupakan kewajiban, mengeluarkan harta telah ditentukan nilainya dalam berbagai keterangan. Misalnya zakat harta (mall), zakat fitrah, zakat profesi, zakat peternakan hingga zakat pertanian.

Zakat ibarat proteksi terhadap semua harta benda yang kita miliki. Sedangkan sedekah merupakan alat pelipat harta bagi orang-orang yang berharta bahkan bagi yang tidak punya harta sekalipun.

Bisnis merupakan ikhtiar untuk mencari dunia. Dalam Islam, bisnis tidak semata-mata urusan duniawi yang tidak ada kaitannya dengan urusan akhirat atau urusan agama. Jika bisnis dilakukan dengan cara yang baik, halal, jujur niscaya akan bernilai ibadah dan menjadi sebab musabab ridla Allah dan memberi izin untuk kelak tinggal di surga.

Sebaliknya, berniaga dengan cara yang haram, tidak jujur, menipu, judi dan perbuatan buruk lainnya, merupakan perniagaan yang dilarang. Hal ini juga menjadikan ikhtiar duniawi tersebut mengundang kemarahan Tuhan,  bahkan membuat Allah memasukkan manusia kepada api neraka. Naudubillah.

Sedekah dengan efek yang dahsayat terhadap  pelipatan harta benda yang dimiliki, pantas kalau kita sebut dengan “promosi langit”. Langit dimaksud sebagai promosi yang melibatkan Tuhan secara langsung.

Kita yakin, Allah telah menjanjikan pahala sedekah sekian dan sekian. Kita mengimani janji Allah sehingga kita berharap atas janji tersebut.  Semakin yakin atas pahala sedekah serta berharap pahala itu, semakin tinggi pula keimanan seseorang.

Kita sering berhitung bazet promosi sekian persen untuk bisnis dengan berharap penghasilan sekian dalam satu bulan, kita berani mengeluarkan anggaran itu. Misalnya iklan di internet, iklan mencetak brosur. Dengan promosi kita yakin, biaya yang dikeluarkan akan kembali sekian persen.
Dengan janji Allah akan mengembalikan sedekah sekian persen, bukankah sama artinya sedekah itu dengan ekpektasi dari setiap promosi? Soal mengembalikan tentu rahasia Allah. Apakah melalui perniagaan yang kita lakukan atau dari pintu lain yang terkadang tidak kita sangka dan diluar dugaan (minhaesu layahtasib).

Jika anda sepakat dengan konsep Promosi Langit, rasanya tidak perlu lagi promosi  secara konvensional. Atau setidaknya bazet promosi konvensional dialokasikan kepada promosi langit untuk menghasilkan yang lebih besar.

Kalau perlu anda uji sendiri. Jika selama ini promosi konvensional bisnis laundry anda sebesar Rp500 ribu perbulan, catat hasilnya mendatangkan omzet berapa.  Anda juga dapat menguji, promosi langit dengan anggaran yang sama. Manakah yang lebih besar hasilnya?

Dari pengalaman, saya sangat merasakan kedahsyatan2 sedekah atau promosi langit tersebut. Sekedar tahdus binnimat, masih di bulan Ramadhan yang mulia ini. Ceritanya saya harus membayar uang sebesar digit 00.000 untuk cicilan sepeda motor orang tua. Saya dengan adik, biasanya bayar selang satu bulan. Karena ada sesuatu dan lain hal, salam 3 bulan ini saya yang membayar.

Pas tiga bulan ini, harapan saya bukan bagian saya yang bayar. Karean alasan tertentu, akhirnya say ayang kembali membayar. Hakul yakin, saya niatkan saja sedekah dan berbuat baik kepada orang tua, saya bayar. Toh ketika saya ada kesulitan, tetap berbagi dengan keluarga.  Niat hari itu trafer. Namun tidak keburu dan berhasil esok harinya.

Apa yang terjadi di hari niat saya mentranfer. Kejaiban muncul. Pertama, sekitar jam 11 an, saya mendapt tranfer yang nilainya lebih sedikit dari jumlah uang yang akan saya trafer. Ung tersebut dari konsumen yang sebelumnya telat bayar. Uang tersebut merupakan keuntungan dari produk yang saya jual. Tanpa dibayarpun sebeanrnya saya sudah untung. Uang di rekening sudah bertambah bahkan lebih dari yang akan saya tranferkan.

Kejaiban kedua, sore hari di hari yang sama, tiba-tiba saya ditelpon seorang ibu yang mengetahui produk dari internet. Katanya dia sedang menuju rumah saya bersama suaminya akan melihat produk.

Tanpa dinyana, ternyata ibu pengusaha itu langsung membeli produk dua unit sekaligus. Saya kira hanya akan melihat. Begitu cepat uang kembali dengan jumlah yang beberapa kali lipat dengan uang yang akan keluar hari itu.

Namun tentu saja, fakta lain sedekah banyak terjadi belum sesuai ekpektasi. Misalnya sedekah sekian masih saja belum ada gantinya. Apakah jani Allah meleset? Jika kondisi tak sesuai ekspektasi, marilah tetap berhusnudon kepada Allah sambil meningkatkan amalan ritual kita.

Mislanya shalat wajib tepat waktu dan berjamaah yang didorong dengan shalat duha serta shalat malam. Shalat, secara ritual merupakan ibadah mahdoh. Namun dampanya memberi keleluasaan duniawi, di samping keleluasaan ukhrawi kelak di akhirat.

Kisah di atas bukan semata-mata menggampangkan atau mencocokan konsep agama, antara dalil sedekah dengan pengalaman yang kita hadapi. Setidaknya kita melihat, terjadi kesesuaian antara keterangan dengan apa yang kita alami.

Di samping itu, kita juga berhar, terus termotivasi berbuat baik kepada sesama dan meningkatkan amalan ritual ibadah kita. Dampak ibadah akan langsung kembali keapda kita, bukan kepada orang lain.  Semoga kita bisa istiqomah dan dijauhkan dari riya. Amiin. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar