Rabu, 24 Mei 2017

Mengapa Kita tak Sesukses Orang lain?

Pagi ini saya kedatangan seorang teman. Sudah beberapa bulan tidak bertemu meski tempat tinggal kami di satu kota yang sama. Biasanya, dia sebulan sekali berkunjung ke rumah untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul sambil ngopi. Berbincang tentang perjalanan hidup atau kesuskesan orang lain.

Kami juga sering terlibat dalam pembicaraan santai, mengapa pengusah itu suksesnya gak ketulunganm, sukses banget di luar rata-rata orang seprofesinya. Dan juga mengapa orang ini masih biasa-biasa saja, belum ada kemajuan yang mencolok, meski bergerak dalam hal yang sama.

Sejak saya kenal pertama kali, temanku ini sangat suka terhadap dunia pemasaran di bidnag obat-obatan herbal. Pernah beberapa kali menjual seperti baju perempuan secara online, namun begitu bertemu lagi ia kembali sebagai penjual herbal.

Saat ini kami membicarakan perjalanan keberhasilan seorang kawan yang kami kenal, meski tidak terlalu dekat. Usahanya sudah sangat maju dengan omzet mencapai miliaran. Teman yang kami bicarakan bisnisnya tersebut pernah bilang ke penulis, keuntungan sebulan bersih bisa mengantongi Rp150 juta. Anda tidak salah Rp150 juta. Mungkin untuk ukuran gaji perusahaan hanya perusahaan tertentu berskala multinasional atau BUMN ternama.
tip sukses
ilustrasi

Dengan trik-trik yang pernah bocor para penulis, kamipun mencoba membahasnya. Mengapa bisnisnya begitu sukses? Padahal produknya sejenis dengan yang dijual oleh sahabat lamaku ini? Lagi pula kata teman tersebut, pengusah sukses ini dulunya sama. Hanya sendirian bekerja di rumah, jualan secara online dengan produk sebuah herbal.

Tentu saja perjalanan itu yang hanya kami ketahui. Masih banyak yang belum diketahui, mengapa mereka begitu berhasil dalam menjalankan bisnis, hingga kehidupan secara material sejahtera.
Perbincangan-perbincangan seperti itu bukan monopoli saya dan kawan saya ini. Anda sebagi pengusaha pemula, pengusah menengah dan pengusaha kelas berat pasti pernah mengalami peristiwa yang sama. Bukankah pada sesi pelatihan motovasi, coach ataupun apa namnya dalam meningkatkan kemampuan berbisnis, kesuksesan orang lain menjadi kisah yang menyegarkan.

Bagimana terkenalnya kisah kake tua penemu McDonald'c, selalu diulang-ulang untuk memunculkan semangat  yang bergelora.  Kita juga sering mendengar kisah tukang  gali tambang yang putus asa di tengah jalan dan memilih  pulang. Saat diteruskan penggalian oleh orang laian ternyata sebongkah emas keberuntungan hanya ditemukan sehempasan cangkul atau dua kali galian belincong.

Bagi saya begitulah hidup. Soal keberuntungan tidak selamanya ditentukan oleh sebuah kerja keras, kerja siang malam banting tulang. Kalau kesuksesan ditentukan oleh banting tulang, sangatlah banyak orang-orang yang sukses di dunia ini berlimah harta dan hidup sejahtera.  Hal yang sama, jika kesuksesan ditentukan oleh kerja cerdas, alangkah banyak orang yang sukses karena mereka cerdas-cerdas.

Bagi saya, bagaimanapun kita meniru orang-orang yang berhasil dalam hidupnya, bisnisnya menjulang, karirnya meroket, tetap saja ada faktor lain yang tidak bisa ditemui. Bukan fator keberuntungan, bukan faktor kecerdasan atau faktor kerja keras. Bagi saya, hanya faktor dikaruniai atau tidak.

Karunia ini yang teramat mahal. Sudah dibeli dengan kerja keras, dengan kerja cerdas atau dengan kemampuan apapun karunia terkadang tak sebanding. Karunia itu datangnya tiba-tiba. Karunia itu tidak muncil dari dalam diri melainkan dari luar diri kita, yang Sang Pemberi Karunia. Siapa dia?  Sang pemberi karunia adalah Allah SWT. Camkan, Dia lah sang pemberi karunia.

Apa bukti-bukti karunia itu dari Allah? Mari renungkan.. Apakah anda pernah meminta nafas, apakah anda pernah menolak udara yang dihisap pada hidung? Apakah orang-orang kaya itu, orang sukses dengan harta melimpah mereka pernah membayangkan jika usaha-usahanya yang dilakukan akan mendatangka keberhasilan? Bisa jadi sebaliknya, seseorang yang merasa akan sukses malah dirundung bangkrut. Sementara orang yang pesimis malah mendapat kesuksesan luar biasa. Aset di mana-mana, perusahaan muncul di setiap tempat. Inilah karunia.

Benar ada upaya menuju kesuksesan itu. Namun itu hanya upaya saja. Seandainya Sang pemberi karunia berkehandak, tanpa usahapun orang yang diberi karunianya akan mendapatkan pula. Berlaku juga sebaliknya.
Tentu saja, tidak mentang-mentang Karunia datang bagi yang dikehendaki Sang Pemberi Karunia, lantas kita diam menunggu  kesuksesan turun dari langit. Tidak begitu. Tetaplah berusaha seperti biasa. Penjual tetap berjualan, pekerja tetap bekerja dan pengangguran tetap mencari pekerjaan. Adapun karunia akan diberikan pada titik mana, disitulah rahasia. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar