Rabu, 21 Juni 2017

Berbagi Ala Motivator Ippho Santosa dan Tung Desem Waringin.

Para motivator terkenal seperti Ippho Santosa, Tum Desem Waringin sangat percaya bahwa berbagai salah satu cara untuk meraih sukses. Apapun sukunya, agamanya, siapapun yang berbagi kepada orang laian akan kembali pada dirinya.
Di bawah ini tulisan Ippho Santosa, motivator berbasis otak kiri diambil dari Fans Fage Facebook Ippho Santosa & Tim Khalifa.

 
Cover buku 7 keajaiban rezeki karya Ippho Santosa
Hari itu saya diundang makan malam di rumah Pak #TungDesemWaringin, pelatih sukses no.1 Indonesia. Walaupun judulnya makan malam, saya datangnya rada sore, bareng istri saya dan sahabat saya, Yeheskiel Zebua.

Seperti biasa, kalau ngobrol kami selalu menghabiskan waktu sampai berjam-jam. Alhamdulillah, bertabur ilmu. Bukan ngobrol kosong belaka. Untuk itu, saya pun merasa bersyukur.

Di sela-sela itu, saya diajak Pak Tung mengunjungi dan berbagi di sebuah panti asuhan Muslim di Karawaci. Ternyata sebagai Nasrani yang taat, beliau rutin berbagi di sana selama 8 tahun terakhir!

Spontan, saya pun bercerita kepada beliau bahwa beberapa hari sebelumnya saya juga mengunjungi dan menyantuni sebuah panti asuhan Nasrani di Bintaro. Berbagi kebahagiaan di sana.

Karena setahu saya, #NabiMuhammad menganjurkan kita untuk menyantuni dan menyayangi anak yatim, apapun agamanya, apapun latar belakangnya. Menjadi rahmat bagi semua.

Memang, berbagi itu mengundang rezeki dan memudahkan urusan-urusan. Tapi BUKAN itu spirit-nya. Kita berbagi karena diperintahkan oleh Sang Pencipta, juga karena kita peduli. Terutama orang-orang di sekitar kita. Btw, tulisan ini boleh di-share.

Pak Tung berbagi sama tetangganya (lingkungan di sekitarnya), demikian pula dengan saya. Berbuat baik kepada tetangga, menariknya, ini diajarkan dalam kitab suci Pak Tung juga kitab suci saya. Masya Allah.

Kepada anak-anak yatim di sana, saya ingatkan, "Inilah Indonesia. Kita saling peduli. Saling jaga. Saling bantu. Tanpa perlu memusingkan apa agama dan sukunya. Spirit ini harus dijaga. Jangan sampai karena beda agama, beda suku, atau beda pilihan politik, akhirnya kita cuek alias tidak peduli. Jangan sampai."

Saya dan Pak Tung sudah berkali-kali kerja sama bikin seminar sosial. Hasilnya kita salurkan ke berbagai yayasan, di antaranya Dompet Dhuafa, ACT, dan Yayasan Buddha Tzu Chi. Bahkan Pak Tung dan Bro Yeheskiel pernah berjam-jam mengajar di Kampus Umar Usman, kampus yang saya dirikan, dan mereka tidak dibayar.
Pas pulang, dalam hati saya pun berdoa, "Semoga rezeki Pak Tung makin lancar dan hidupnya makin bermanfaat." Demikian pula teman-teman yang membaca dan menyebarkan tulisan ini, aamin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar